Pemanfaatan Attraktan methyl eugenol 
Selain menyerang buah nangka, cempedak, jambu dan buah paria, serangga ini
dapat juga menyerang tanaman lombok. Dimana tanaman lombok yang pengendaliannya
menggunakan methyl eugenol intensitas kerusakan tanaman dapat dihindari yaitu berkisar
antara 2-4%. Methyl eugenol tersebut merupakan zat attraktan bagi lalat buah jantan,
dimana zat attraktan tersebut hanya menarik jantan saja. Dengan tertariknya serangga
jantan, telur-telur yang diletakkan betina tidak terjadi pembuahan, sehingga intensitas
kerusakan akibat larva menurun bahkan terhindar dari serangan lalat buah.
Adapun tata letak dan jumlah dari methyl eugenol/ha hanya 9 buah dengan jarak
antara methyl eugenol 30 x 30 m. Sedangkan dosis yang digunakan 0,5 cc zat attraktan
tersebut. Kemampuan bertahannya zat attraktan yang dipasang dapat bertahan sampai 30
hari. Hasil pengamatan terhadap serangga jantan lalat buah yang terperangkap di lapang
pada MH 2002/2003 pada tanaman lombok menunjukkan bahwa, pengamatan pada minggu
I, II, III dan IV masing-masing populasi lalat buah berkisar antara 143 dan 185, 80 dan 12
ekor (Gambar 2) (Hamijaya, 2003). Disini terlihat bahwa hasil tangkapan populasi lalat
buah pada minggu I dan II, populasi lalat jantan cukup tinggi, sedangkan pada minggu III
dan IV populasi lalat jantan menurun. Hal ini dikarenakan bahwa daya pancar/pikat dari
zat attraktan tersebut lemah/menurut, sehingga mengakibatkan kurang tertariknya jantan
untuk datang. Sedangkan pada tanaman yang bebas zat attraktan intensitas kerusakan
cukup tinggi berkisar antara 50-85%, bahkan sampai 100%.
Attraktan buatan
Ketertarikan serangga hama seperti lalat buah, jenis serangga perusak daun terhadap
attraktan buatan cukup berpotensi untuk dikembangkan. Hasil pengamatan terhadap
ketertarikan serangga hama terhadap attaraktan buatan tersebut dapat mengurangi tingkat
seranggan hama berkisar antara 10-15%, dan disamping itu pula petani yang menggunaan
attraktan buatan tersebut cukup derastis mengurangi penggunaan bahan kimia beracun.
Kebiasaannya petani dalam mengendalikan hama sayuran selalu menggunakan insektisida
yaitu 1-2 kali/minggu terutama dalam mengendalikan sayuran buahan seperti gambas,
lombok dan paria. Tetapi petani yang menggunakan attraktan buatan dalam mengendalikan
hama-hama tersebut hampir tidak melakukan pengendalian dengan menggunakan
insektisida. Dengan demikian attraktan buatan tersebut cukup berpotensi dikembangkan
sebagai agensia pengendali yang akrap lingkungan. Adapun cara aplikasi dari attraktan
buatan tersebut tiap 3-5 meter dipasang satu attraktan dan kemudian diganti setiap 3-4 hari
You can leave a response, or trackback from your own site.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

,
0 Response to " "
Posting Komentar