
Pemanfaatan Predator Rangrang (Oecophylla smaragdina F) pada lalat buah
Semut rangrang (Oecophylla smaragdina F), memiliki sifat morfologik sebagai
pemangsa, keberadaan rangrang sebagai pemangsa juga tampak apabila rangrang bertemu
dengan ulat pemakan daun.
Hasil pengamatan intensitas kerusakan akibat lalat buah pada paria, yang diberi
perlakuan semut rangrang dimana intensitas kerusakan relatif jauh lebih rendah
dibandingkan tanpa perlakuan. Tanaman paria yang diberi semut rangrang intensitas
kerusakan berkisar antara 1-2% (Gambar 1). Hal ini dikarenakan rangrang sangat aktif
mencari mangsa terutama dari lalat buah berupa telur yang diletakkan pada paria tersebut.
Telur-telur tersebut tidak sempat menetas untuk menjadi larva, karena diambil semua untuk
dimakan dan sebagian dibawa kedalam sarang sebagai makanan anak-anaknya.
Pengamatan secara visual dimana imago lalat buah yang hinggap pada tanaman paria
tersebut selalu dihadang oleh rangrang dan diserbu beramai-ramai, sehingga dapat
menghindari dari peletakkan telur oleh imago lalat buah. Disamping itu, semut rangrang
tersebut kalau menggigit kebiasaannya selalu mengeluarkan cairan yang berbau langu. Hal
ini diduga pula bahwa cairan berbau tersebut yang dikeluarkan oleh rangrang dapat
mempengaruhi/mengusir lalat buah.
Semut rangrang yang bersarang pada tanaman jambu juga menunjukkan sifat
predasi yang nyata. Fenomena ini terjadi pada jambu, yang buahnya diserang lalat buah.
Larva lalat buah yang sedang keluar untuk berkepompong sudah dihadang semut rangrang.
Begitu bagian depan telah muncul dan digigit, larva segera ditarik keluar dan dikeroyok
oleh 5-8 ekor rangrang yang menggigit dengan posisi melingkar, sehingga larva lalat buah
tidak berkutik (Soeprapto,. 1999).
Pembungkusan buah
Pengendalian dengan cara pembungkusan buah ini, sudah dilaksanakan petani yaitu
untuk mengendalian buah nangka, cempedak dan buah paria dari serangan lalat buah. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa buah paria yang diperlakukan dengan cara pembungkusan
ini dapat menekan intensitas kerusakan berkisar antara 2-5% (Gambar 1). Kelemahan dari
cara ini antara lain : kapan waktu pembungkusan buah dan cara pembungkusannya, dan
warna buah kurang menarik. Hal ini dikerenakan masih ada serangan dari lalat buah pada
buah yang dibungkus, dan disamping itu pula cara mengikat pembungkus dapat
mempengaruhi tingkat pemkembang buah (kadang-kadang buah jadi layu) serta warna buah
kurang menarik atau pucat. Kelemahan lainnya yaitu cara ini kurang praktis dan
memerlukan waktu, tenaga dan biaya terutama pada pertanaman yang luas.
You can leave a response, or trackback from your own site.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

,
0 Response to " "
Posting Komentar