Efikasi Terhadap Ulat Jengkal

Dari hasil pengamatan didapatkan beberapa jenis tumbuhan liar rawa yang
berpotensi sebagai insektisida nabati terhadap ulat jengkal dan persentase tingkat kematian
larva melebihi dari kontrol insektisida (tumbuhan mimba) yaitu tumbuhan galam, mercon,
sungkai, kedondong, kumandrah dan cambai. Seperti tumbuhan liar mercon dan galam
daya racun terhadap larva yang diuji lebih tinggi persentase kematian larva dibandingkan
mimba (kontrol insektisida nabati) (Tabel 6). Hal ini diduga bahwa jenis tumbuhan liar
rawa tersebut mempunyai bahan aktif yang lebih meracun dibandingkan bahan dari mimba.
Pengamatan secara visual bahwa tumbuhan liar rawa tersebut mempunyai ciri khas tertentu
seperti galam mempunyai bau aroma yang baik, kumadrah dapat digunakan sebagai bahan
obat-obatan, cambai dapat digunakan sebagai bahan ramuan ginjal dan maag, sedangkan
tumbuhan mercon dapat juga digunakan sebagai fumigan dalam mengendalikan hama-
hama padi terutama walang sangit.

Pada perlakuan insektisida nabati dari bahan tumbuhan rawa bereaksi agak lambat
dan diduga mempunyai racun perut disini dibuktikan setelah larva-larva yang diuji makan
baru larva-larva tersebut memperlihatkan daya racunnya bekerja. Selain itu pula diujikan
juga insektisida dari bahan tumbuhan rawa tersebut langsung secara kontak pada larva-
larva yang diuji hanya sebagian kecil saja yang mengalami keracunan dengan demikian
dapat dikatakan, namun tidak memperlihatkan adanya kematian larva.


Efekasi Terhadap Ulat Grayak

Dalam kegiatan inventarisasi tumbuhan yang mengandung bahan bioaktif atau
berpotensi sebagai pestisida, diperoleh kurang lebih 23 jenis yang dikatagorikan mampu
membunuh atau menekan aktivitas hama tanaman. Tumbuhan tersebut terdiri dari golongan
rumputan, semak dan pohon-pohonan. Nama-nama tumbuhan yang telah dikoleksi belum
diketahui bahasa umumnya (Bahasa Indonesia), sehingga masih menggunakan Bahasa
Daerah Banjar. Tumbuhan yang dikoleksi pada umumnya berhasiat sebagai obat, namun
ada juga yang dapat meracun terutama pada kulit dan sebagian lagi mempunyai bau yang
menyengat.

Ada empat jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai insektisida nabati, yaitu
kumandrah, kancing-kancing, cambai dan sungkai. Dari keempat jenis tumbuhan tersebut
diketahui bahwa daun sungkai adalah yang paling efektif, yaitu mampu membunuh larva S.
litura sebesar 90 % baik instar 2-3 ataupun 3-4, sedangkan lainnya hanya mampu
membunuh antara 40% - 60% saja (Tabel 7).
Sungkai adalah tumbuhan hutan yang kayunya biasanya digunakan untuk membuat
mebel, sedangkan daunnya digunakan untuk mempercepat kematangan buah. Tumbuhan
lainnya seperti kumandarah biasanya digunakan untuk memperlancar buang air besar dan
cambai digunakan untuk obat sakit perut, sedangkan kancing-kancing adalah tanaman yang
tumbuh pada pohon lain yang menyerupai anggrek yang digunakan sebagai campuran
bedak (kosmetik).
Menurut Thamrin et al. (2004), jenis tumbuhan rumput minjangan (Chromolaena
odorata) selain berpotensi dalam mengendalikan penggerek batang padi, ulat kubis dan ulat
buah paria juga berpotensi dalam mengendalikan ulat grayak (Spodoptera litura). Jenis
tumbuhan rumput minjangan (Chromolaena odorata) memiliki suatu metabolit sekunder
yang belum diketahui kandungan kimia dari tumbuhan tersebut.
Read More..

Pengasapan


Taktik pengandalian dengan menggunaan asap sudah seringkali dilakukan oleh
petani rawa lebak maupun tadah hujan, tetapi hasilnya kurang memuaskan. Tetapi dengan
mengganti bahan pengasapan tersebut dengan menggunaan bahan tumbuhan mercon
menunjukkan hasil yang cukup memuaskan, karena bahan tersebut kalau dapat
menimbulkan bau sehingga dapat mempengaruhi aktivitas dari hama-hama sayuran.. Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa penggunaan asap dari bahan tumbuhan mercon tersebut
intensitas kerusakan oleh hama daun dan beberapa hama lainnya dapat ditekan. Hal ini
diduga bahwa bau asap dari bahan tersebut dapat mengusir hama-hama tersebut, karena
pada lokasi pertanaman sayuran yang dikendalikan dengan insektisida hampir tidak
menunjukkan adanya perbedaan dari tingkat kerusakan tanamannya.

Insektisida nabati

Selain mendukung pertanian organik, di lain pihak untuk mengurangi penggunaan
insektisida sintetis, diperlukan alternatif pengendalian yang ramah lingkungan dan murah
harganya. Salah satunya adalah dengan menggunakan insektisida yang berasal dari bahan
alami asal tumbuhan.
Read More..

Pemanfaatan Attraktan methyl eugenol


Selain menyerang buah nangka, cempedak, jambu dan buah paria, serangga ini
dapat juga menyerang tanaman lombok. Dimana tanaman lombok yang pengendaliannya
menggunakan methyl eugenol intensitas kerusakan tanaman dapat dihindari yaitu berkisar
antara 2-4%. Methyl eugenol tersebut merupakan zat attraktan bagi lalat buah jantan,
dimana zat attraktan tersebut hanya menarik jantan saja. Dengan tertariknya serangga
jantan, telur-telur yang diletakkan betina tidak terjadi pembuahan, sehingga intensitas
kerusakan akibat larva menurun bahkan terhindar dari serangan lalat buah.

Adapun tata letak dan jumlah dari methyl eugenol/ha hanya 9 buah dengan jarak
antara methyl eugenol 30 x 30 m. Sedangkan dosis yang digunakan 0,5 cc zat attraktan
tersebut. Kemampuan bertahannya zat attraktan yang dipasang dapat bertahan sampai 30
hari. Hasil pengamatan terhadap serangga jantan lalat buah yang terperangkap di lapang
pada MH 2002/2003 pada tanaman lombok menunjukkan bahwa, pengamatan pada minggu
I, II, III dan IV masing-masing populasi lalat buah berkisar antara 143 dan 185, 80 dan 12
ekor (Gambar 2) (Hamijaya, 2003). Disini terlihat bahwa hasil tangkapan populasi lalat
buah pada minggu I dan II, populasi lalat jantan cukup tinggi, sedangkan pada minggu III
dan IV populasi lalat jantan menurun. Hal ini dikarenakan bahwa daya pancar/pikat dari
zat attraktan tersebut lemah/menurut, sehingga mengakibatkan kurang tertariknya jantan
untuk datang. Sedangkan pada tanaman yang bebas zat attraktan intensitas kerusakan
cukup tinggi berkisar antara 50-85%, bahkan sampai 100%.

Attraktan buatan

Ketertarikan serangga hama seperti lalat buah, jenis serangga perusak daun terhadap
attraktan buatan cukup berpotensi untuk dikembangkan. Hasil pengamatan terhadap
ketertarikan serangga hama terhadap attaraktan buatan tersebut dapat mengurangi tingkat
seranggan hama berkisar antara 10-15%, dan disamping itu pula petani yang menggunaan
attraktan buatan tersebut cukup derastis mengurangi penggunaan bahan kimia beracun.

Kebiasaannya petani dalam mengendalikan hama sayuran selalu menggunakan insektisida
yaitu 1-2 kali/minggu terutama dalam mengendalikan sayuran buahan seperti gambas,
lombok dan paria. Tetapi petani yang menggunakan attraktan buatan dalam mengendalikan
hama-hama tersebut hampir tidak melakukan pengendalian dengan menggunakan
insektisida. Dengan demikian attraktan buatan tersebut cukup berpotensi dikembangkan
sebagai agensia pengendali yang akrap lingkungan. Adapun cara aplikasi dari attraktan
buatan tersebut tiap 3-5 meter dipasang satu attraktan dan kemudian diganti setiap 3-4 hari
Read More..


Pemanfaatan Predator Rangrang (Oecophylla smaragdina F) pada lalat buah

Semut rangrang (Oecophylla smaragdina F), memiliki sifat morfologik sebagai
pemangsa, keberadaan rangrang sebagai pemangsa juga tampak apabila rangrang bertemu
dengan ulat pemakan daun.
Hasil pengamatan intensitas kerusakan akibat lalat buah pada paria, yang diberi
perlakuan semut rangrang dimana intensitas kerusakan relatif jauh lebih rendah
dibandingkan tanpa perlakuan. Tanaman paria yang diberi semut rangrang intensitas
kerusakan berkisar antara 1-2% (Gambar 1). Hal ini dikarenakan rangrang sangat aktif
mencari mangsa terutama dari lalat buah berupa telur yang diletakkan pada paria tersebut.
Telur-telur tersebut tidak sempat menetas untuk menjadi larva, karena diambil semua untuk
dimakan dan sebagian dibawa kedalam sarang sebagai makanan anak-anaknya.
Pengamatan secara visual dimana imago lalat buah yang hinggap pada tanaman paria
tersebut selalu dihadang oleh rangrang dan diserbu beramai-ramai, sehingga dapat
menghindari dari peletakkan telur oleh imago lalat buah. Disamping itu, semut rangrang
tersebut kalau menggigit kebiasaannya selalu mengeluarkan cairan yang berbau langu. Hal
ini diduga pula bahwa cairan berbau tersebut yang dikeluarkan oleh rangrang dapat
mempengaruhi/mengusir lalat buah.
Semut rangrang yang bersarang pada tanaman jambu juga menunjukkan sifat
predasi yang nyata. Fenomena ini terjadi pada jambu, yang buahnya diserang lalat buah.
Larva lalat buah yang sedang keluar untuk berkepompong sudah dihadang semut rangrang.
Begitu bagian depan telah muncul dan digigit, larva segera ditarik keluar dan dikeroyok
oleh 5-8 ekor rangrang yang menggigit dengan posisi melingkar, sehingga larva lalat buah
tidak berkutik (Soeprapto,. 1999).


Pembungkusan buah

Pengendalian dengan cara pembungkusan buah ini, sudah dilaksanakan petani yaitu
untuk mengendalian buah nangka, cempedak dan buah paria dari serangan lalat buah. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa buah paria yang diperlakukan dengan cara pembungkusan
ini dapat menekan intensitas kerusakan berkisar antara 2-5% (Gambar 1). Kelemahan dari
cara ini antara lain : kapan waktu pembungkusan buah dan cara pembungkusannya, dan
warna buah kurang menarik. Hal ini dikerenakan masih ada serangan dari lalat buah pada
buah yang dibungkus, dan disamping itu pula cara mengikat pembungkus dapat
mempengaruhi tingkat pemkembang buah (kadang-kadang buah jadi layu) serta warna buah
kurang menarik atau pucat. Kelemahan lainnya yaitu cara ini kurang praktis dan
memerlukan waktu, tenaga dan biaya terutama pada pertanaman yang luas.
Read More..

Komponen Alternatif Pengendalian hama sayuran

Perangkap Warna Kuning Berperekat

Dengan cara ini penggunaan insektisida dapat dikurangi. Oleh kar
penggunaan perangkap kuning untuk pengendalian hama lalat korok daun di In
perlu dikaji. Menurut Nurdin et al. (1999), melaporkan bahwa perangkap kun
bahan plastik yang diolesi dengan pelumas lebih efektif mengendalikan lalat kor
pada tanaman kentang dibanding jenis lainnya (Tabel 1 ).
Populasi lalat dewasa yang terperangkap oleh perangkap plastik kuning
seminggu sebanyak 23,4 ekor, sedangkan jenis perangkap kuning lainnya lebih rend
ini kemungkinan disebabkan oleh warna kuning pada plastik lebih kontras dan m
sehingga lalat lebih tertarik dibandingkan jenis perangkap kuning lainnya. Dan di
itu pula plastik kuning tersebut lebih tahan terhadap hujan dan cahaya matahari, s
mengakibatkan lebih melekatnya lebih awet atau lebih lama. Read More..

kangkung

Kangkung

Asal:

Diduga asli India Selatan tapi ditemukan hampir di seluruh daerah tropik. Di daerah hangat, seperti Florida, menjadi gulma yang serius.

Deskripsi:

Tanaman annual yang pertumbuhannya merambat. Selain dibudidayakan di air, kangkung dapat dibudidayakan di darat (kangkung darat). Batang kangkung berbentuk silindris dan berongga yang dibatasi oleh buku, jarak antar buku tidak beraturan dan setiap buku mempunyai kemampuan untuk membentuk cabang dan daun. Permukaan batang kangkung ada yang berduri ada yang tidak. Setelah pemangkasan batang yang berduri akan tumbuh batang yang tidak berduri.

Tipe daun pada tanaman kangkung adalah tipe daun tunggal, kedudukannya berseling tumbuh dari berbagai buku, batang dan cabang. Pada tanaman muda, bentuk daunnya lancip dan memanjang berwarna hijau. Sedangkan pada daun yang tua, bentuk dan ukuranya sangat bervariasi. Ada yang berbentuk bulat telur (cordate), bulat telur memanjang, segitiga, lanset atau memipih seperti garis dengan pangkal daun berlekuk seperti anak panah.

Bagian yang dikonsumsi:

Pucuk muda dan daun

Budidaya kangkung darat:

Penanaman dengan benih yang sudah direndam satu malam

Setiap lubang berisi 2 benih

Jarak tanam yang digunakan adalah 17.5 cm x (10-15) cm

Pupuk urea diberikan dengan cara sebar rata (broadcast) dengan dosis 10 gram/m2

Panen:

Kangkung darat dapat dipanen setelah berumur 20-30 HST, pada umur ini jumlah daun cukup lebat dan batang besar, tetapi masih renyah (crips). Panen dilakukan dengan mencabut batang dan akar tetapi bisa juga dipotong 5-10 cm dari tanah, biasa pada lahan kebun rumah.
Read More..

kacan panjang

Kacang Panjang

Asal:

Ditanam di Ethiopia 4000 – 3000 SM. Ditanam terutama di India dan Afrika Barat tapi juga penting di beberapa daerah Amerika dan sebagai sayuran hijau di India Timur dan Cina.

Deskripsi:

Tanaman annual perdu. Daun majemuk tersusun atas tiga helai dengan batang yang liat dan sedikit berbulu. Varietas unggul di Indonesia : Kacang Panjang 1 (KP-1), Kacang Panjang 2 (KP-2) dan Usus Hijau.

Suhu:
18-32 oC

Bagian yang dikonsumsi:

Polong masih muda atau biji polong yang telah tua

Budidaya:

Cahaya matahari penuh

Tanah subur, gembur dan berdrainase baik

Pada umur 3 MST dipasang ajir/tuturus, diantara 2 tanaman. Empat lanjaran disatukan ujungnya, diikat jadi satu dengan tali.

Selama pertumbuhan, dilakukan pemotongan pucuk tanaman untuk merangsang tunas baru (pucuk dan daun muda dapat menjadi sumber sayuran)

Panen:

Panen pertama kali dilakukan setelah berumur 45 hari. Polong kacang panjang sudah dapat dipanen sesudah terisi penuh tetapi masih mudah dipatahkan. Warna polong hijau merata sampai hijau keputihan.
Read More..

terong

Terong

Asal:

Terong liar ditemukan di India yang memiliki rasa buah pahit. Dari India, terong meyebar ke Cina pada abad 5 SM dan dibawa oleh pedangang ke Spanyol dan Afrika.

Deskripsi:

Tanaman terong merupakan tanaman annual di daerah temperate dan perennial di daerah tropik (tergantung pada cara budidaya). Daunnya sederhana, tebal, 15-25 cm panjangnya dan bagian bawah permukaan daun berbulu. Buah berbentuk oval atau lonjong. Pertumbuhan indeterminate. Warna kulit buah ungu kehitaman, putih atau hijau. Daging buah putih dan kulit buah berubah menjadi kuning ketika buah matang. Satu buah terung berisi sekitar 2.500 biji tergantung pada jenisnya. Buah terung tanpa biji biasanya mempunyai tekstur keras dan kurang disenangi oleh konsumen.

Suhu:

22-30 °C

Budidaya:

Tanah berdrainase baik

Cahaya matahari penuh

Semai – transplant: 3 minggu

Pewiwilan (pembuangan tunas samping yang tumbuh pada ketiak daun)

Panen:

2-3 BST (kulit buah terlihat mengkilat)
Read More..

Tomato

Tomat

Asal:

  • Tomat berasal dari Amerika Selatan. Pada awalnya tomat dicurigai sebagai buah yang beracun dan baru pada awal abad 20 tomat menjadi populer dan menjadi salah-satu sayuran penting dunia.

Deskripsi:

  • Tanaman perdu yang hidup annual di daerah temperate dan perennial berumur pendek di daerah tropik. Dapat bersifat determinate, yaitu menyemak (pertumbuhan pucuk tanaman diakhiri dengan munculnya bunga), atau dapat pula bersifat indeterminate, yaitu tumbuh memanjang terus-menerus dengan batang yang agak menjalar (pertumbuhan pucuk tanaman bersifat vegetatif/tidak diakhiri dengan munculnya bunga). Tinggi tanaman bisa mencapai 2 m. Warna bunga kuning dengan warna buah merah atau kuning. Jumlah tandan yang dibentuk sekitar 5 tandan (di lapang), atau dapat mencapai 5-10 tandan bila ditanam di rumah kaca/plastik dengan sistem hidroponik, bahkan di daerah Ugahari (temperate) dengan cara ini dapat diperoleh 20 tandan. Satu tandan dapat mencapai berat 500 – 1000 gr.

Varietas :

  • Intan (indeterminate)

Suhu:

  • 21-24 °C

Budidaya:

  • Tanah dengan drainase baik

  • Relatif tahan asam

  • Semai – transplant (3 minggu)

  • Tanaman perlu diberi ajir/diikat tali agar tidak roboh

  • Tunas samping pada tanaman indeterminate dibuang/diwiwil.

  • Untuk membantu penyerbukan, bunga yang telah mekar di ketuk perlahan menjelang siang hari (di tempat yang jarang/tidak terdapat serangga).

  • Kekurangan air dan Ca selama perkembangan buah menyebabkan “blosom end root”, busuk pada ujung buah tomat.

Panen:

  • 2 –3 BST

Read More..

Ketimun

Ketimun

Asal:

  • Dibudidayakan di India 3000 tahun yang lalu.

Deskripsi:

  • Tanaman semusim yang tumbuh menjalar dengan menggunakan alat pegangan (sulur) berbentuk spiral. Batangnya lunak, berbentuk segi empat, panjang mencapai 1-3 m dan mempunyai sistem perakaran yang dangkal. Daun ketimun berlekuk tiga, kedua permukaannya berbulu kasar, ujungnya bersegitiga runcing dan memiliki tangkai daun panjang. Daun tanaman berwarna hijau terang dengan susunan berseling.
    Bentuk bunga menyerupai terompet, dengan mahkota bunga berwarna kuning cerah. Letak bunga jantan dan bunga betina terpisah tapi masih dalam satu tanaman (monoecious). Tanaman mentimun dapat menyerbuk sendiri atau silang. Buah mentimun tergolong buah pepo yang mengandung banyak biji.

  • Ketimun mempunyai ukuran, warna, dan rasa yang bermacam-macam. Dari segi warna dibedakan atas ketimun berkulit putih dan ketimun berkulit hijau. Ketimun Jepang tergolong ketimun berkulit hijau.
    Ketimun yang memiliki nilai ekonomis tinggi adalah Ketimun Jepang.

  • Ketimun Jepang diklasifikasikan menurut kriteria mutu yaitu:

    • Kelas A: panjang 16 – 20 cm, diameter 1.5 – 2.0 cm, bentuk lurus, bulat dan mulus.

    • Kelas B: memiliki panjang 20 – 23 cm, diameter 2.0 cm, lurus, bulat dan mulus.

    • Kelas C: buah afkiran yang panjangnya lebih dari 23 cm.

Kandungan Gizi:

  • Vitamin A, B, dan C. Di dalam 100 gram bahan segar mengandung kalori 10 gram, protein 0.7 gram, lemak 0.1 gram, hidrat arang 2.7 gram, vitamin A 0.071 gram, vitamin B1 0.03 gram, vitamin C 0.8 gram, dan air 86.1 gram

Suhu:

  • 18-30 °C

Budidaya:

  • Tanah berdrainase baik

  • Curah hujan tinggi akan menyebabkan banyak bunga rontok dan gagal menjadi buah.

  • Penanaman menggunakan benih dengan cara ditanam langsung.

  • Dipasang ajir untuk merambat pada 3-4 MST

  • Pemangkasan cabang dan penjarangan bunga jantan

Panen:

  • Masa tanaman ketimun berbuah dapat berlangsung 40-60 hari. Panen dapat dilakukan setiap hari, dengan tiap kali petik dapat diperoleh 1-2 buah atau lebih per tanaman. Panen pertama dapat dilakukan setelah tanaman berumur kira-kira 75-85 hari tergantung tingkat pertumbuhan dan kesuburan tanaman. Proses pemasakan buah dapat dihitung mulai dari mekarnya bunga, biasanya 7-10 hari bunga mekar, buah sudah dapat dipetik.

Hama dan Penyakit:

  • Lalat buah (Dacus cucurbitae)

  • Ulat buah

  • Embun Tepung

  • Virus Mozaik

  • Layu

  • Bercak daun (Cercospora citrullina)

Read More..

Ketimun

Ketimun

Asal:

  • Dibudidayakan di India 3000 tahun yang lalu.

Deskripsi:

  • Tanaman semusim yang tumbuh menjalar dengan menggunakan alat pegangan (sulur) berbentuk spiral. Batangnya lunak, berbentuk segi empat, panjang mencapai 1-3 m dan mempunyai sistem perakaran yang dangkal. Daun ketimun berlekuk tiga, kedua permukaannya berbulu kasar, ujungnya bersegitiga runcing dan memiliki tangkai daun panjang. Daun tanaman berwarna hijau terang dengan susunan berseling.
    Bentuk bunga menyerupai terompet, dengan mahkota bunga berwarna kuning cerah. Letak bunga jantan dan bunga betina terpisah tapi masih dalam satu tanaman (monoecious). Tanaman mentimun dapat menyerbuk sendiri atau silang. Buah mentimun tergolong buah pepo yang mengandung banyak biji.

  • Ketimun mempunyai ukuran, warna, dan rasa yang bermacam-macam. Dari segi warna dibedakan atas ketimun berkulit putih dan ketimun berkulit hijau. Ketimun Jepang tergolong ketimun berkulit hijau.
    Ketimun yang memiliki nilai ekonomis tinggi adalah Ketimun Jepang.

  • Ketimun Jepang diklasifikasikan menurut kriteria mutu yaitu:

    • Kelas A: panjang 16 – 20 cm, diameter 1.5 – 2.0 cm, bentuk lurus, bulat dan mulus.

    • Kelas B: memiliki panjang 20 – 23 cm, diameter 2.0 cm, lurus, bulat dan mulus.

    • Kelas C: buah afkiran yang panjangnya lebih dari 23 cm.

Kandungan Gizi:

  • Vitamin A, B, dan C. Di dalam 100 gram bahan segar mengandung kalori 10 gram, protein 0.7 gram, lemak 0.1 gram, hidrat arang 2.7 gram, vitamin A 0.071 gram, vitamin B1 0.03 gram, vitamin C 0.8 gram, dan air 86.1 gram

Suhu:

  • 18-30 °C

Budidaya:

  • Tanah berdrainase baik

  • Curah hujan tinggi akan menyebabkan banyak bunga rontok dan gagal menjadi buah.

  • Penanaman menggunakan benih dengan cara ditanam langsung.

  • Dipasang ajir untuk merambat pada 3-4 MST

  • Pemangkasan cabang dan penjarangan bunga jantan

Panen:

  • Masa tanaman ketimun berbuah dapat berlangsung 40-60 hari. Panen dapat dilakukan setiap hari, dengan tiap kali petik dapat diperoleh 1-2 buah atau lebih per tanaman. Panen pertama dapat dilakukan setelah tanaman berumur kira-kira 75-85 hari tergantung tingkat pertumbuhan dan kesuburan tanaman. Proses pemasakan buah dapat dihitung mulai dari mekarnya bunga, biasanya 7-10 hari bunga mekar, buah sudah dapat dipetik.

Hama dan Penyakit:

  • Lalat buah (Dacus cucurbitae)

  • Ulat buah

  • Embun Tepung

  • Virus Mozaik

  • Layu

  • Bercak daun (Cercospora citrullina)

Read More..

Kubis/Kol

Asal:

  • Kubis modern diduga berasal dari Jerman, dimana kubis putih dan merah ditanam pada tahun 1150 M.

Bagian yang dikonsumsi:

  • Daun memadat yang membentuk head

Budidaya:

  • Kubis memerlukan tanah yang berdrainase baik, subur, dan cahaya matahari penuh

  • Banyak dibudidayakan di dataran tinggi namun telah ditemukan varietas yang dapat tumbuh baik di dataran rendah, yaitu KK-Cross

  • Benih disemaikan terlebih dahulu dan siap ditransplant 2-4 minggu setelah semai

  • font-family:Verdana;font-size:85%;" >Keterlambatan transplanting menyebabkan head yang terbentuk kecil (efek buttoning)

  • Pemupukan dapat dilakukan seminggu stelah tanam

  • Kebutuhan air harus diperhatikan, jangan sampai kekeringan

Panen:

  • Kubis dapat dipanen 2-3 bulan setelah tanam (head telah memadat)

  • Potong bagian bawah head dan buang sisa daun yang tua

Hama dan Penyakit:

  • Plutella xylostela (dapat dikurangi dengan menanam tomat diantara tanaman kubis)

  • Crocidolomia binotalis

  • Akar gada

  • Busuk lunak

Kubis Brussel
(Brussels Sprouts (Ingg.), B. oleraceae var. gemmifera (Latin)) Famili: Brassicae

Asal:

  • Dicatat pertama kali di Belgia pada tahun 1750 M, mencapai Inggris dan Perancis tahun 1800

Bagian yang dikonsumsi:

  • Tunas samping yang memadat membentuk head kecil

Suhu:

  • Suhu rendah, masih tahan pada suhu –10 °C

Budidaya:

  • Tanah subur dan berdrainase baik

  • Penyemaian hingga siap tanam (3- 4 minggu)

Panen:

  • 3-3,5 BST

Kubis Bunga

Asal:

  • Kubis bunga diduga berasal dari Kreta, Cyprus atau Mediterrania dan tiba di Italia sekitar tahun 1490 M meski demikian sayuran serupa telah dikembangkan sebelumnya di Roma.

Bagian yang dikonsumsi:

  • Bunga yang tersusun dari rangkaian bunga kecil bertangkai pendek. Ada yang berwarna putih, kuning dan ada pula yang ungu

Suhu:

  • 20-25 °C

Budidaya:

  • Memerlukan pH agak tinggi sehingga sebaiknya tanah perlu dikapur dulu

  • Kandungan N pada pupuk/tanah jangan terlalu tinggi

  • Penyemaian hingga siap tanam:1-1,5 bulan

  • Saat bunga mulai muncul, daun-daun pada pucuk disatukan (dengan lidi atau tali) untuk melindungi bunga dari sinar matahari dan hujan

Panen:

  • 3-4 BST

Kubis Keriting

Asal:

  • Telah dikenal oleh bangsa Yunani kuno. Beberapa varietas telah dideskripsikan oleh Cato yang hidup sekitar tahun 2000 SM.

Bagian yang dikonsumsi:

  • Daun muda (berbentuk keriting dan tidak membentuk head)

Suhu:

  • Suhu rendah

Read More..

cabai adalah

Cabai

Asal:

  • Cabai berasal dari dunia baru (Meksiko, Amerika Tengah dan Pegunungan Andes di Amerika Selatan). Penyebab rasa pedas pada cabai adalah capsaicin yang bervariasi menurut varietas dan dipengaruhi iklim. Cuaca panas merangsang cabai menjadi lebih pedas.

Deskripsi:

  • Tanaman semak perennial berumur pendek, warna bunga tergantung spesies. Sistem perakarannya agak menyebar, daun hati berbentuk hati lonjong atau bulat telur dengan letak yang berselang-seling. Batang utamanya tegak dan berkayu pada pangkalnya, dengan tinggi tanaman 30-75 cm.

  • Bunga pertama muncul dari puncak sumbu utama dan untuk selanjutnya akan muncul ketiak daun. Warna mahkota bunga putih sampai ungu. Buah dapat berwarna hijau atau ungu (muda) dan merah, jingga atau kuning (tua). Bentuk buah bervariasi mulai dari linier, kerucut, bulat atau gabungan dengan posisi buah tegak, landai atau menggantung, tergantung kultivar.

Jenis Cabai:

  • Cabai besar (Capsicum annuum)

    • Cabai merah (Chili Peppper (Ingg.), C. annuum var. longum (Latin))

    • Paprika (Bell Pepper (Ingg.),C. annuum var grossum)

    • Cabai hijau (C. annum var. annuum)

  • Cabai kecil/cabai rawit. (Tobasco pepper (Ingg.), C. futescens (Latin))

    • Cabai jemprit

    • Cabai ceplik

    • Cabai putih

Varietas Cabai Merah:

  • TM-999. Varietas cabai keriting hibrida ini memiliki pertumbuhan yang sangat kuat dan kokoh. Pembungaannya berlangsung terus-menerus sehingga dapat dipanen dalam jangka waktu yang panjang. Ukuran buahnya 12.5 cm x 0.8 cm dengan berat buah 5-6 g. Rasanya sangat pedas, cocok untuk digiling dan dikeringkan. Hasul per tanaman berkisar 0.8-1.2 kg.

  • TM 888. Varietas hibrida ini memiliki sosok tanaman yang besar dan daun lebih lebar dari TM 999. Adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan yang panas, tahan serangan phytaphthora & anttraknosa. Panjang buah 13,5 x 1,4 cm dengan berat buah 7-8 g.

  • SALERO. Berpenampilan menarik seperti umumnya cabai keriting lo­kal. Varietas ini memiliki adaptasi penanaman yang cukup luas dengan produktivitas per hektar cukup tinggi.

  • TARO. Varietas Taro mempunyai ukuran buah yang sedikit lebih besar dibandingkan caabai keriting TM-999. Sosok tanamannya besar dan kekar dengan ruas percabangan panjang. Tanaman ini mampu ber­produksi baik di dataran rendah sampai menengah ( sampai 1000 m dpl). Hasil per tanaman berkisar 0.75-1.2 kg, tergantung kondisi terakhir tanaman.

  • KUNTHI. Mempunyai bentuk buah keriting, kulit kasar, ujung runcing, rasa pedas dan seragam seperti cabai keriting lokal. Tanaman kokoh dan dapat beradaptasi di dataran rendaah, sedang sampai tinggi. Masa panennya panjang sehingga produksi buahnya pun tinggi dengan potensi hasil 20 ton per hektar. Kualitas buah yang ba­gus menyebabkan varietas ini dikonsumsi segar dalam bentuk cabai hijau maupun merah dan dapat dikeringkan.

  • CTH-01. Cabai keriting hibrida ini mempunyai bentuk buah yang benar-benar keriting. Cabai ini mulai banyak ditanam petani, meskipun selama ini pengembangannya masih bertumpu pada daerah dataran rendah, namun cabai CTH-01 pun sebenarnya mampu berproduksi dan tumbuh dengan baik di datar­an menengah hingga tinggi. Cabai ini cocok untuk konsumsi segar maupun dikeringkan, dengan produksi per hektanya mampu mencapai lebih dari 20 ton.

  • HOT BEAUTY. Varietas cabai besar ini sering disebut dengan cabai TW. Buahnya mempunyai ukuran 13 x 1,4 cm dengan bobot 7,5 gram per buah. Rasa kurang pedasdan warna merah menggiurkan. Bentuk buah besar dan daging buah yang tipis. Tetap segar selama satu minggu sejak petik. Masa panen lebih panjang dan dapat ditanam di dataran rendah atau tinggi.

  • LONG CHILI. Ukuran buah lebih besar dari hot beauty dan hero. Buah berukuran 18 x 2 cm dan bobot 18 gram per buah. Warna buah merah menyala saat masak. Bentuk buah ramping, kulit mulus dan berdaging tebal. Mampu berproduksi 2 kg per tanaman. Hanya mampu berproduksi di dataran tinggi 800-1500 m dpl.

  • HERO. Varietas ini berukuran 15 x 1,8 cm dan bobot rata-rata 16 gram per buah. Mampu berpraduksi 1,9-2,1 kg pertanaman. Cocok ditanam di daerah dengan ketinggian 400-800 m dpl, tapi bisa juga beradaptasi di dataran rendah 50-200 m dpl. Peka terhadap antraknosa, sehingga lebih baik ditanam pada musim kemarau.

  • RABU. Varietas ini cocok dikembangkan di dataran rendah sampai menengah (0-800 mdpl). Penampakan tanaman kokoh dengan percabangan banyak serta bertajuk lebat dan kompak. Varietas ini mempunyai kemurnian genetis tinggi sehingga dalam satu hamparan pertanaman tampak seragam. Tahan terhadap serangan hama trips dan penyakit patek/antraksnosa. Buahnya silindris lurus, ujung runcing, padat, daging tebal, rasa pedas dan warnanya merah tua mengkilap pada saat masaak. Panen perdana berlangsung sekitar 70-75 HST (hari setelah tanam) dengan hasil 1.0-1,5 Kg/tanaman atau sekitar 18-27 ton/ha. Buahnya tahan terhadap pengangkutan jarak jauh.

  • MARATON. Seperti halnya Prabu, varietas Maraton pun cocok di tanam di dataran rendah sampai menengah. Penampakan fisik tegak dan kokoh serta memiliki tajuk yang lebih lebat dan kompak. Varietas ini mempunyai kemurnian genetik tinggi, tahan terhadap seranaan penyakit layu Pseudomonas, patek/antraksnosa, dan bercak daun bak­teri. Sangat cocok ditanam pada akhir musim kemaraau atau musim hujan. Berat rata-rata per buah mencapai 12. 5-14.3 g. Panen per­dana berlangsung sekitar 70-75 HST dengan hasil 1.0-1.5 Kg/tanaman atau sekitar 18-27 ton/ha. Buahnya tahan dalam penyimpanan dan transportasi jarak jauh.

  • ARIMBI-513. Memiliki penampilan yang kokoh serta cabang yang kekar dan lebar. Varietas ini relatif tahan terhadap serangan hama dan penyakit, terutama layu bakteri. Buahnya besar, halus ujung lan­cip, panjang 13 cm, diameter 2 cm, warna merah, kompak dan sangat berkualitas. Produksi buah berlangsung terus-menerus dan mulai dapat dipanen pada umur 80 HST. Rata-rata produksi 1.25-1.5 Kg/tanaman atau 22.5-27.0 ton dengan populasi 18.000 tanaman per hektar. Buahnya tahan pengangkutan jarak jauh dan dapat dipasarkan lokal maupun ekspor.

  • CAKRA PUTIH. Varietas cabai rawit ini berwarna putih kekuningan yang berubah merah cerah saat masak. Pertumbuhan tanman sangat kuat dengan membentuk banyak percabangan. Posisi buah tegak ke atas dengan bentuk agak pipih dan rasa sangat pedas. Mampu menghasilkan buah 12 ton per hektarnya dengan rata-rata 300 buah per tanaman, dipanen pada umur 85-90 HST. Cakra putih ini pun tahan terhadap serangan penyakit antraksnosa.

  • CAKRA HIJAU. Varietas cabai rawit ini mampu beradaptasi dengan baik di dataran rendah maupun tinggi. Saat tanaman muda buahnya berwarna hijau dan setelah masak berubah merah. Potensi hasilnya 600 g per tanaman atau 12 ton per hektar. Rasanya pedas, tahan ter­hadap serangan hama dan penyakit yang biasa menyerang cabai. Panen berlangsung pada umur 80 HST.

Suhu:

  • 18 – 27 °C

  • Suhu yang terlalu tinggi tapi kelembaban rendah meningkatkan laju transpi­rasi yang mengakibatkan bunga dan buah rontok.

Budidaya:

  • Tanah subur dan berdrainase baik

  • Relatif tahan terhadap kemasaman tanah

  • Semai – transplant: 4 – 5 minggu

  • Pewiwilan

  • Pada curah hujan tinggi bunga akan mudah gugur

Panen:

  • 2 – 3 BST, interval panen 2-3 hari.

  • Pada cabai merah atau cabai keriting, pemanenan dapat dilakukan hingga 6 bulan. Untuk cabai rawit bisa mencapai 2 tahun. Cara pemetikan buah cabai dari pohonnya perlu diperhatikan agar tidak terjadi kerusakan pada tanaman cabai sehingga bisa berproduksi secara optimal. Suhu optimal untuk penyimpanan cabai 7-10 o C. Jika disimpan di bawah suhu ini dapat menimbulkan chilling injury yang merusak buah rusak.

Hama dan Penyakit:

  • Ulat grayak
    Gejala serangan tampak berupa lubang-lubang pada daun. Pengendalian secara kimiawi dengan menyemprotkan insektisida, seperti Baythroid 50 EC, Alsystin 25 WP, Curacorn. Volume semprotnya kira-kira 500 l air/ha.

  • Penyakit bercak daun cercospora
    Penyebabnya Cercospora capsici, dengan gejala serangan bercak coklat pada daun yang terserang yang lama-kelamaan membesar dan menyebabkan gugurnya daun. Selain dengan cara memangkas dan membakar daun yang terserang, cara pengendalian yang lain adalah dengan menyemprotkan fungisida seperti Topsin M 70 WP, Delsen MX-200 sebanyak 1-2 kg/ha.

  • Penyakit Antraknosa
    Penyebabnya Gleosporium piperatum dan Colletotrichum capsici. Gejala ditandai dengan pembusukan pada bauh cabai yang terserang. Penyakit ini dapat menyerang buah baik di lapang maupun di tempat penyimpanan. Selain dengan cara budidaya yang baik dan sanitasi lahan dapat dilakukan pengendalian secara kimiawi seperti pada penyakit bercak daun.

  • Virus
    Virus yang menyerang cabai antara lain Tobacco mosai virus, cucumber mosaic virus. Pada Cucumber mosaic virus gejala serangannya tulang daun mengering dan daging daun hijau tua. Pengendalain tanaman yang terserang virus agar tidak menyebar dalah dengan cara eradikasi (dimusnahkan).

  • Rebah kecambah (Damping-off)
    Penyebabnya Phytium, Rhizoctonia solani dan Phytophtora. Penyakit ini ditandai dengan kegagalan benih untuk berkecambah atau kematian bibit segera setelah pemunculan. Pencegahan penyakit ini adalah dengan merendam benih dalam larutan fungisida yang sesuai, mencelupkannya selama 5 menit dalam larutan Natrium hipoklorit 0,5 % atau dengan merendam dalam air panas (50 o C) selama 1 jam. Pencegahan pada persemaian bisa dengan penaburan kapur secukupnya di atas permukaan persemaian.

Read More..

Powered by Blogger